Sejarah Bandara Adisutjipto

PERIODE 1936 – 1942
Pangkalan Udara Maguwo dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda, dan dipergunakan untuk kepentingan Angkatan Udara Belanda.
PERIODE 1942 – 1945
Pada tahun 1942 kota Jogyakarta diduduki oleh tentara Jepang dan Pangkalan Udara Maguwo diambil alih oleh tentara Jepang dari pemerintah Hindia Belanda sampai dengan bulan Agustus 1945.
PERIODE 1945 – 1949
Tahun 1945 Pangkalan Udara Maguwo diambil alih oleh Pemerintah Republik Indonesia dan dijadikan Pangkalan Angkatan Udara untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Pada tahun 1948 Pemerintah Hindia Belanda menduduki kota Jogjakarta dan Pangkalan Udara Maguwo direbut kembali oleh Angkatan Perang pemerintah Hindia Belanda. Pada tahun 1949 direbut kembali oleh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dan dijadikan fasilitas militer untuk Angkatan Udara dalam periode mempertahankan kemerdekaan. Tahun 1948, Kapten penerbang putra bangsa Indonesia yang bernama Adisutjipto telah gugur, dan untuk mengenang jasa-jasanya Pangkalan Udara Maguwo diganti menjadi Pangkalan Udara Adisutjipto.
Periode 1959 – 1992
Sejak tahun 1959, pangkalan udara Adisutjipto dijadikan pusat pelatihan penerbang Akademi Angkatan Udara (AAU) Republik Indonesia. Pada tahun 1964 sesuai Surat Perjanjian Bersama antara Direktorat Jenderal Perhubungan Udara dengan Angkatan Udara Republik Indonesia, Pangkalan Udara Adisutjipto Jogjakarta menjadi Pangkalan Udara gabungan antara Sipil dan Militer.
PERIODE 1992 – SEKARANG
Pada tanggal 1 April 1992, sesuai dengan PP Nomor 48 Tahun 1992, Bandar Udara Adisutjipto secara resmi masuk ke dalam pengelolaan Perum Angkasa Pura I. Tanggal 2 Januari 1993 statusnya dirubah menjadi PT (PERSERO) Angkasa Pura I Cabang Bandar Udara Adisutjipto sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 1993.
